kisah seram kuyang parahiyangan

Kuyang Parahiyangan

Kuyang Parahiyangan

Malam di Parahiyangan terasa mencekam, sayup-sayup
terdengar gesekan batang bambu di pinggiran rawa.
Sesekali terdengar sahutan burung malam dari
kejauhan. Desau angin berhembus pelan.

Suasana terasa sangat berbeda dengan desa sebelah, Kararai.
Remaja berjaga-jaga disekitar rumah Ambrosius sambil
membawa obor. Hawini isterinya hendak melahirkan.

Kebiasaan di desaku. Malam merangkak jauh. Banyak
penjaga yang terlelap. Obor-obor masih tetap menyala
menerangi pelataran rumah. Aku pun ikut terbawa

suasana lengang, dalam keadaan setengah sadar
kulihat makhluk api sebesar lampu petromak berada
diatas atap rumah Ambrosius. “Kuyang…!” Teriakku
lantang Kontan saja para penjaga bangun dan

menghunus senjata. Ada yang membawa mandau,
tongkat, batu dan juga parang panjang. “Mana?” “Itu di
atas atap!” Makhluk itu ternyata mengetahui kesigapan
kami, dan langsung terbang melayang keluar desa

Parahiyangan “Kejaa…r!!” kelengangan berubah riuh.
Pengejaran tak membuahkan hasil. Hantuwen itu lenyap
tanpa bekas. Semua kembali dengan memendam geram.
Di rumah Ambrosius. “ Bayinya sudah membiru….!”

Teriak salah satu dari mereka. Bayi yang baru
dilahirkan itu kehabisan darah, nyawanya tak bisa
diselamatkan. Rupanya Hantuwen tadi telah berhasil
menghisap darahnya. Hawini yang mendengar

perkataan itu menangis, meraung-raung, sampai tak
sadarkan diri. Hantuwen Kuyang itu adalah wanita jadi-
jadian. Untuk mengawetkan tubuhnya agar tetap muda,
makhluk itu harus meminum darah orok. Bila ada orang

mau melahirkan, makhluk itu akan menjalankan
ritualnya, maka tidak jarang setiap malamnya banyak
makhluk-makhluk api berseliweran dilangit. Makhluk
api itu sebenarnya adalah kepala dan isi tubuh dari

manusia jadi-jadian tersebut, dalam ritualnya, badan
mereka akan disimpan disuatu ruangan rahasia atau
tempat tersembunyi. Dengan cara mengoleskan minyak
bintang disekeliling leher setelah itu kepala serta isi

badan akan terpisah dengan sendirinya. Hantuwen
Kuyang tidak akan bisa kembali menjadi manusia jika
badan yang ditinggalkannya di balik seseorang.

Begitulah cerita-cerita yang aku dengar dari ninih
Marus, tetanggaku.. *** Suara adzan baru selesai
dikumandangkan, menandakan bahwa setiap santri
yang mengaji harus segera menyudahi pelajarannya.

Inilah yang menarik dari desaku, toleransi beragama,
walaupun mayoritas di sana beragama Kristen. Tiap-
tiap masuk waktu shalat, kumandang suara adzan akan
selalu menghiasi sudut-sudut kampung. Kami pulang

berjalan kaki sambil membawa obor. Kerlap kerlip obor
berjajar memanjang bagai untaian berlian di tengah
kegelapan. Pemandangan demikian selalu menghiasi
malam seusai pulang mengaji. Satu persatu dari kami
berpisah menuju rumah masing-masing. Rumahku dan
Ja’far berdekatan berada paling ujung desa

Parahiyangan dan harus melewati hutan bambu yang
lebat. Sebenarnya ada jalan lain, tetapi selain lebih jauh
juga harus melewati pemakaman yang angker, aku
memilih lewat jalan dekat walaupun ada hutan

bambunya. Sambil membawa obor sebagai penerang
aku berjalan di depan. “Anwar, kamu yakin mau lewat
sini?” Ja’far bertanya sambil membuntuti langkahku.
”Daripada lewat pemakaman” jawabku sekenanya

menurut teman-temanku, Hantuwen Kuyang selain
menjalankan ritual di kamar khusus biasa juga
ditempat-tempat sepi, seperti hutan bambu atau
rumah-rumah kosong Kami hampir sampai hutan

bambu, keringat dingin membanjiri baju koko yang
kukenakan. Aku tak tahu apa yang terjadi dengan
Ja’far, yang jelas sejak memasuki hutan bambu,
tangannya tak pernah melepas. Sudah separuh hutan

bambu terlewati. “ Jangan cepat-cepat!” Aku tak
menanggapi omongan Ja’far, mataku menangkap
cahaya terbang dilangit meluncur cepat ke tempat yang

tak jauh dari kami berdiri. “Ja’far…kamu melihatnya?”
“apa?” “Hantuwen Kuyang…” belum selesai aku
berucap, Ja’far sudah memeluk erat tubuhku. “Anwar,
yang benar kamu?” “B…enar!Aku penasaran ingin
melihatnya, tadi jatuh kearah pohon pisang itu” ucapku

kemudian. Rasa takut yang sejak tadi menguasaiku
seolah sirna oleh rasa keingintahuanku, aku hanya
mendengar cerita dari teman mengenai makhluk itu,
saat ini aku berkesempatan mengetahuinya sendiri.

Pasti akan menjadi berita heboh esoknya. “ kau ikut
tidak?” tanyaku kemudian “ yang bener kamu?” Ja’far
balik bertanya. “he…eh” Lampu obor kami matikan,
sandal jepit kami lepas. Kebiasan kami jika hendak lari
kencang, dan memang kami melakukannya saat ini.

Batang-batang bambu yang lebat menjadikan kami sulit
mengetahui lebih dekat pohon pisang tempat makhluk
api tadi meluncur. Barulah setelah merangkak pelan
dan melewati batang bambu yang tumbang, kami baru
bisa mendekati pohon pisang itu. Dari jarak kira-kira

tiga meter aku bisa melihat dengan lamat-lamat. Jasad
tengkurap di tanah beralaskan kain putih. Tak jauh dari
jasad itu ada peralatan ritual yang tak satupun aku
mengerti, mungkin salah satu dari peralatan itu ada

minyak bintang yang berguna memisahkan jasad dan
kepala tanpa rasa sakit. Jasad itu berdiri terhuyung-
huyung, kemudian benar-benar tegak berdiri.

Merapikan pakaian yang ia kenakan. Dan pergi kearah
jalan yang kami lewati menuju kearah musholla tempat
kami mengaji. Sangat dekat dengan tempat

persembunyian kami. Rambutnya panjang rapi, dengan
baju setengah badan menampakkan sebagian
payudaranya, bau minyak bintang menyeruak kerongga
hidung. “S..stt bukankah itu Dulueloy wanita desa kita,
ada apa malam-malam begini ia kesini?” bisikku pelan
“Iya, berarti benar Dulueloy wanita jadi-jadian itu?”
“mungkin” Hampir satu jam-an kami masih

bersembunyi, setelah memastikan wanita tadi telah
pergi jauh, baru kami keluar. Dan berlari sekencang-
kencangnya. “Anwar…!! Aku tidur di rumahmu ya?” pinta
Ja’far di sela-sela larinya. “ Iya. Nggak pa pa” Setelah
mendekati poskamling kami berhenti berlari. Suasana

sudah terang karena banyak obor-obor dipelataran.
Satu dua penjaga bercengkrama di pos sambil bermain
kartu. “ War… menurutmu gimana setelah melihat hal
tadi?” “kita tidak bisa langsung mengambil keputusan ,

bisa jadi kita salah lihat. “ “Tapi aku yakin, aku berani
sumpah dia itu Dulueloy, warga desa kita. Apa kamu
tidak lihat rambutnya yang panjang, bukankah di daerah
ini rambutnya pendek-pendek, hanya dia yang
rambutnya panjang. Lihatlah cara dia berpakaian,

seronok memamerkan tubuh moleknya. Bukankah itu
semua hanya ada pada dia. Aku bisa memastikan
Dulueloy wanita jadi-jadian itu” “ Iya, tapi kita tetap
tidak bisa langsung menuduhnya, banyak
kemungkinan-kemungkinan lain” ucapku pelan. ***
Bulan telah berganti. Musim kemarau datang, udara

yang dibawa dari perbukitan terasa kering dan panas.
Daun-daun pohon karet menguning, meranggas, jatuh.
Siang menjadi lengang, tak banyak yang lalu lalang,
mereka lebih senang bercengkrama dengan keluarga.

Dan malam selalu dinanti. Anak-anak berkumpul di
balai desa, macam –macam saja permainannya.
Hantuwen Kuyang menghilang. Hingga suatu sore,
ketika hujan deras, aku benar-benar melihat sendiri,
Dulueloy pergi ke arah hutan bambu. Ku ikuti langkahya
dari kejauhan, dan ia berhenti di bawah pohon pisang.

Mengeluarkan sesuatu dari tasnya, sebuah botol
minyak. Ia oleskan disekeliling leher, dan berbaring
ditanah yang beralaskan kain putih. Kepala itu bersama
organ tubuh tiba-tiba keluar melesat kelangit. Aku
gemetaran melihatnya, tak kusangka Dulueloy benar-
benar wanita jadi-jadian itu. Aku ingat, kata ninih

Marus, jika jasad Hantuwen Kuyang yang terpisah dari
kepalanya dibalik, maka makhluk itu tidak akan bisa
kembali menjadi manusia. Selamanya. Aku beranikan
untuk melukan hal ini, ku balik jasad yang terbaring
itu. Lantas mengambil minyak bintang yang berada tak

jauh dari tas. Buru-buru aku berdiam di kamar
mengurung diri. *** Esoknya, pemakaman di kampungku
ramai, Dulueloy meninggal tanpa ada yang tahu apa
penyebabnya. Aku tak mau memberitahu mereka,
tentang peristiwa yang aku alami. Minyak bintang yang

ku bawa telah kubuang ke sungai. Hantuwen Kuyang
tidak akan bisa mengambilnya, karena Hantuwen itu
paling takut dengan air. Desaku akan hidup tentram.
Tapi aku pun tak yakin kalau wanita jadi-jadian itu

benar-benar sudah lenyap. Malam baru usai, ditandai
cahaya fajar lamat-lamat menerobos celah-celah
dedaunan bambu. Di ujung jalan desa Parahiyangan,
seorang wanita asing berjalan gontai masuk melewati
batas perkampungan. Rambutnya panjang rapi, dengan
baju setengah badan menampakkan sebagian

payudaranya. Tangannya yang putih halus melambai
lemah ke arahku. Lamat-lamat, bau yang sudah benar-
benar kukenal, menusuk rongga hidungku, aroma
minyak bintang. Aku tersentak…..Selesai……

note: ini hanyalah mitos yang tidak jauh dari  sebuah dongeng dan artikel ini diposting hanya untuk dibaca disaat anda sedang boring atau bosan

keterangan : hantu itu tidak ada yang ada adalah jin yang mampu menjelma menjadi sosok sosok tertentu, masalah arwah gentayangan itu hanya karir film horror agar bisnisnya laku,,ingat tidak ada arwah gentayangan karena setiap manusia yang sudah meninggal pasti arwahnya berada dialam barzakh entah dia mendapat siksa kubur atau mendapat nikmat kubur dan tidak ada serta tidak akan arwah manusia kembali kedunia untuk gentayangan dan ini semua adalah kebohongan besar
mesothelioma survival rates structured settlement annuity companies mesothelioma attorneys california

BERITA LENGKAP DI HALAMAN BERIKUTNYA

Artikel Terkait

kisah seram kuyang parahiyangan
4/ 5
Oleh